Telaah Atas Konsep Sekolah Pada Buku Laskar Pelangi dan Dunia Tanpa Sekolah
Telaah Atas Konsep Sekolah Pada Buku Laskar Pelangi dan Dunia Tanpa Sekolah
Mintarti Mintarti
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui definisi dan makna konsep sekolah dalam buku Laskar Pelangi (LP) dan Dunia Tanpa Sekolah (DTS) serta mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi perbedaan cara memaknai konsep itu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis) khususnya model van Dijk. Inti analisisnya menggabungkan tiga dimensi wacana teks, kognisi sosial, dan konteks sosial ke dalam satu kesatuan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pemaknaan konsep “sekolah” pada buku LP dan DTS. Dalam LP, sekolah dimaknai sebagai lembaga yang memerdekakan sementara dalam DTS sekolah dimaknai sebagai lembaga yang memenjarakan. Perbedaan cara pandang di antara keduanya disebabkan oleh perbedaan latar belakang sosial budaya pengarangnya. Andrea berasal dari keluarga miskin dalam masyarakat yang sangat tajam stratifikasi sosialnya, sementara Izza anak dari pasangan guru yang relatif mapan status sosial ekonominya. Di sekolah, keduanya menemukan kenyataan yang berbeda. Andrea bertemu dengan guru-guru yang menginspirasi, yaitu guru yang mampu menerjemahkan kurikulum sedemikian rupa sehingga melekat kuat di benak murid serta dapat membangkitkan semangat untuk keluar dari segala kesulitan. Faktor lain yaitu jumlah murid di kelas Andrea yang karena dipaksa oleh keadaan hanya berjumlah sepuluh orang. Kelas kecil ini justru dapat menciptakan interaksi antar murid yang intens, sehingga suasana belajar menjadi lebih menyenangkan. Sebaliknya, sebagai anak guru yang tidak asing dengan dunia sekolah Izza memiliki pengalaman tidak nyaman di tahun-tahun pertamanya masuk sekolah. Selain itu, hobinya membaca termasuk bacaan-bacaan radikal tentang pendidikan yang tersedia di rumahnya, makin membuatnya sangat membenci sekolah.
