UPDF AI

RADIKALISME KEAGAMAAN DI PESANTREN: ANTARA REALITAS SOSIAL DAN KONSTRUKSI STIGMA

Asyari Asyari

2025 · DOI: 10.56997/almabsut.v19i2.3216
0 Citations

Abstract

Radikalisme keagamaan di pesantren merupakan isu yang terus memunculkan perdebatan akademik dan publik, terutama setelah sejumlah aksi terorisme dikaitkan dengan individu berlatar belakang pendidikan pesantren. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara pesantren dan radikalisme keagamaan dengan menempatkannya dalam perspektif realitas sosial dan konstruksi stigma. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan terhadap buku, artikel ilmiah, laporan lembaga pemerintah, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan. Analisis dilakukan menggunakan perspektif sosiologi agama, teori konstruksi sosial, dan teori stigma untuk memahami bagaimana persepsi publik mengenai pesantren terbentuk serta faktor-faktor yang memengaruhi munculnya radikalisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterkaitan pesantren dengan radikalisme tidak bersifat kausal maupun homogen. Radikalisasi dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor, meliputi orientasi ideologi pengasuh, kurikulum tersembunyi, jaringan sosial, dinamika politik, pengaruh ideologi transnasional, serta kondisi sosial-ekonomi. Sementara itu, mayoritas pesantren di Indonesia justru berperan sebagai institusi pendidikan Islam moderat yang menginternalisasikan nilai-nilai tasamuh, tawazun, i'tidal, dan tawassuth. Stigma yang mengidentikkan pesantren dengan radikalisme lebih merupakan hasil proses pelabelan dan generalisasi atas kasus-kasus individual dibandingkan representasi kondisi empiris seluruh pesantren. Oleh karena itu, upaya pencegahan radikalisme memerlukan pendekatan berbasis bukti empiris, penguatan moderasi beragama, dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, serta institusi pesantren agar tidak memperkuat stereotip yang berpotensi merugikan lembaga pendidikan Islam.