UPDF AI

Pengaruh Edukasi Booklet terhadap Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Hipertensi Peserta Prolanis di Puskesmas Butang Baru Kabupaten Sarolangun

Trisia Mayang Sari,Yelly Oktavia Sari,Fatma Sri Wahyuni

2025 · DOI: 10.36490/journal-jps.com.v8i3.911
Journal of Pharmacy and Science · 1 Citations

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi tinggi dan merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kepatuhan minum obat yang rendah menjadi tantangan dalam pengelolaan hipertensi jangka panjang. Edukasi kesehatan merupakan strategi kunci untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pasien. Booklet dinilai sebagai media edukasi yang potensial untuk menyampaikan informasi secara terstruktur. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh edukasi menggunakan media booklet terhadap tingkat kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi peserta Prolanis di Puskesmas Butang Baru Kabupaten Sarolangun. Metode: Penelitian ini menggunakan desain eksperimen pretest-posttest control group design. Sebanyak 56 responden dibagi secara merata menjadi kelompok intervensi (mendapat edukasi booklet) dan kelompok kontrol (tidak mendapat intervensi). Instrumen pengukuran kepatuhan menggunakan kuesioner MARS-5. Data dianalisis menggunakan uji statistik Wilcoxon Signed Ranks. Hasil: Terdapat peningkatan kepatuhan yang signifikan pada kelompok intervensi. Persentase pasien dengan kepatuhan tinggi meningkat dari 7,14% menjadi 53,57%, sementara kategori kepatuhan rendah turun dari 25% menjadi 0%. Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna. Analisis statistik memperkuat temuan ini dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang membuktikan bahwa intervensi booklet berpengaruh signifikan secara statistik terhadap peningkatan kepatuhan. Kesimpulan: Edukasi dengan media booklet terbukti efektif dalam meningkatkan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Oleh karena itu, booklet dapat dijadikan sebagai strategi intervensi yang aplikatif dan berdampak positif dalam mendukung keberhasilan program pengelolaan penyakit kronis seperti Prolanis di layanan kesehatan primer.