UPDF AI

Dialog sebagai Misi: Reinterpretasi Amanat Agung dalam Konteks Pluralisme Indonesia

Nofia Hudaya

2025 · DOI: 10.46929/graciadeo.v8i2.293
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO · 0 Citations

Abstract

This article highlights the need to reinterpret the Christian mission in Indonesia, shifting from a colonial paradigm focused on church expansion toward a contextual mission grounded in local culture and interreligious dialogue. Previous studies have shown that traditional missions, from the Middle Ages to the early twentieth century, emphasized saving souls and church extension or church planting, often neglecting social transformation, cultural inclusion, and interfaith dialogue. Contemporary mission theologians, such as David J. Bosch, Andrew Kirk, Raimundo Panikkar, Paul Knitter, and Lalsangkima Pachuau, stress the importance of crossing religious boundaries, fostering community participation, and contextualizing mission praxis. However, the practical implementation of these perspectives in Indonesia remains limited, particularly in managing the tension between proselytism and dialogical engagement. This study employs a qualitative, library-based approach with critical-theological analysis. Findings indicate that interfaith dialogue can coexist with Christian mission, broadening the church’s vocation to address human welfare, cultural respect, and service to the marginalized. The originality of this research lies in the reinterpretation of the Great Commission as a mandate to realize the missio Dei in a reconciliatory, inclusive, and contextually grounded manner, offering a mission model relevant to Indonesia’s pluralistic society.

 

 

Abstrak

Artikel ini menyoroti perlunya reinterpretasi misi Kristen di Indonesia dari paradigma kolonial yang berfokus pada ekspansi gereja menuju model misi kontekstual berbasis budaya dan dialog antaragama. Studi terdahulu menegaskan bahwa misi tradisional, dari Abad Pertengahan hingga awal abad ke-20, menekankan penyelamatan jiwa dan pendirian gereja, seringkali mengabaikan transformasi sosial, inklusi budaya, dan dialog antaragama. Pergeseran paradigma misi kontemporer, sebagaimana dikemukakan oleh David J. Bosch, Andrew Kirk, Raimundo Panikkar, Paul Knitter, dan Lalsangkima Pachuau, menekankan keterbukaan lintas agama, partisipasi komunitas, dan kontekstualisasi, namun implementasinya di Indonesia masih terbatas, khususnya dalam mengelola ketegangan antara proselitisme dan dialog. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis teologis-kritis. Hasil kajian menunjukkan bahwa dialog antaragama dapat berjalan seiring dengan misi Kristen, memperluas panggilan gereja terhadap isu kemanusiaan, penghormatan budaya, dan pelayanan kepada kaum miskin. Kebaruan penelitian ini terletak pada reinterpretasi Amanat Agung sebagai mandat untuk mewujudkan missio Dei secara rekonsilatif, inklusif, dan kontekstual, sekaligus menawarkan model misi yang relevan bagi masyarakat majemuk di Indonesia.